Di dalam masjid imam sedang memimpin Shalat Tarawih dengan jamaahnya yang sebagian besar orang tua. Sementara di luar, banyak pula anak-anak dan remaja sibuk dengan berbagai kegiatannya masing-masing. Siswa SMP dan SMA memilih merokok dengan sedikit bersembunyi, jika pun tidak, sebagian besar dari remaja ini menjadikan malam-malam Ramadhan sebagai ajang tebar pesona alias berlagak untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
Padahal sebelumnya, kira-kira satu jam sesudah buka puasa, ketika azan berkumandang, sebagian besar dari mereka buru-buru menyandang kain sarung, mukenah, lalu melangkahkan kaki ke masjid atau mushala terdekat untuk melaksanakan Shalat Isya. Namun ketika Shalat Tarawih mereka memenuhi janji pada teman, pada calon pacar, atau lawan jenis yang sebelumnya telah membuat janji melalui SMS, facebook, maupun saat bertemu sebelumnya.
Sementara anak SD memilih jajan kerupuk kuah, berkumpul bersama teman sebaya, bergelut-gelut, bahkan berujung dengan perkelahian sesama mereka. Malah ada yang lebih usil dengan menghabiskan malam bermain petasan.
Sementara ketika siang, mereka memilih warnet sebagai tempat berkumpul. Tampaknya mereka benar-benar menemukan cara yang tepat untuk menghabiskan hari menanti saat berbuka. Lalu ke mana tradisi tadarus, tarawih, dan membangunkan tetangga dan warga di sekitar tempat tinggal untuk sahur?
”Saat Ramadhan, biasanya kami tadarus di mushala atau masjid. Kami tidak pulang ke rumah, melainkan tidur di masjid. Saat sahur tiba, kami akan keliling kampung untuk membangunkan orang sahur. Sekarang saya tidak melihat lagi anak-anak seperti itu,” ujar Zulfitriadi, saat Padang Ekspres (grup JPNN).
Memang sekarang akan susah menemukan anak-anak dan remaja yang menghabiskan harinya di masjid. Menurut Hariolis, salah seorang guru SD di kawasan Tabing mengatakan hal itu disebabkan karena tidak ada yang menjadi contoh. Tidak ada yang mengajak anak-anak dan remaja untuk menjadikan masjid menjadi tempat yang nyaman.
”Saya ingat dulu dijemput kawan ke rumah untuk pergi tadarus. Kami bangga menghabiskan hari di masjid. Walau ada main-mainnya, namun tetap terselip ibadah yang menyemarakkan Ramadhan,” ujar Hariolis.
Rizki, siswa MTsN di Lubukbuaya mengaku ingin juga tadarusan. Namun tidak ada teman untuk mewujudkan keinginannya tersebut. ”Kawan-kawan saya semuanya di warnet, ya terpaksa saya ikut ke warnet,” ujar Rizki.
Menurutnya, saat malam, warnet di dekat rumahnya memang tutup. Akibatnya mereka memang ke masjid. Namun saat selesai Shalat Tarawih mereka memang pulang ke rumah dan bermain-main bersama kawan. ”Kadang kami main petasan, kadang hanya sekadar berkumpul,” ujarnya lagi.
Tak jauh berbeda, seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Padang, Riki Haspandi, juga lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya, siang atau pun malam di warnet atau di tempat permainan billiard. ”Dulu waktu masih sekolah ya ada tadarusan, sekarang jatahnya yang muda-muda lagi,” katanya sambil bergurau. Riki mengaku tidak ada teman untuk melakukan tadarusan. Sebab, teman-temannya juga lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain game di warnet.
Sementara Helmi, salah seorang ibu rumah tangga di kawasan Lubukbuaya mengakui dia tidak menyuruh anaknya ke masjid untuk tadarus. Karena setahunya di masjid tidak ada anak-anak yang ikut tadarus di masjid. Dia takut anaknya justru bermain-main di luar dan mengerjakan hal yang tidak baik bersama temannya.
”Seharusnya ketika Pemko mempunyai pesantren Ramadhan untuk tarawih dan mengikuti bimbingan pada siang hari, setiap masjid juga mempunyai program untuk membuat anak-anak mengikuti tadarus. Mungkin sedikit reward yang dijanjikan akan membuat anak-anak lebih semangat,” ujarnya.
Priandono, salah seorang pengurus masjid Al Ikhlas Tabing, mengaku antusiasme ramaja dan anak-anak untuk meramaikan masjid sesudah Shalat Tarawih saat ini terasa berkurang. Menurutnya, kegiatan tadarus paling banter hanya dilakukan beberapa orang saja, itu pun mayoritas anak-anak wanita usia sekolah, yang lelaki lebih banyak malasnya.
”Kalau saya perhatikan remaja sekarang, apalagi yang laki-laki, ada-ada saja alasan mereka untuk tidak ikut tadarusan. Mulai dari tidak ada temanlah, malu lah, sampai mengaku tidak bisa mengaji, datang ke masjid pun lebih banyak sekadar untuk hura-hura. Itu untuk anak sekolah SMP dan SMA,” jelasnya.
Untuk mahasiswa dia tidak melihat ada upaya meramaikan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat di masjid atau mushala. Kalau ada kebanyakan memang mereka yang berlatar belakang Islam yang kuat.
Seorang ibu rumah tangga, warga Tabing, Yuli Hastuti, berpendapat, hal itu disebabkan makin modernnya dunia anak-anak. Sehingga kebiasaan di masjid semakin hilang. Orangtua katanya, bukannya tidak peduli atau terlalu sayang kepada anak. Tetapi anak zaman sekarang tidak lagi memiliki rasa takut kepada orangtua.
”Anak sekarang lebih banyak nakalnya, sudah dimarahi masih juga tidak mau mendengar. Saya termasuk orangtua yang paling sering memarahi anak, tapi ya anak tidak ada takutnya dengan orangtua berbeda sekali dengan kami dulu,” sebutnya.
Sedikit berbeda dengan Yuli, warga Purus yang juga seorang ibu rumah tangga sekaligus dosen di Universitas Andalas, Lilik Zurmailis berpendapat, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal demikian. Dulu masyarakat bisa memarahi anak-anak muda walau tidak ada hubungan kekerabatan. Kini anak sangat dimanjakan orangtuanya.
”Sosial informasi yang bisa mambentuk karakter seseorang, saat ini tidak lagi datang dari lingkungan sosial yang paling dekat, tapi dari informasi global yang cenderung sekuler. Sosial kontrol sudah tidak berperan lagi,” ungkapnya, saat diwawancara lewat jejaring sosial, Facebook, Sabtu (13/8).
Menurutnya, pada sisi lainnya remaja yang gaya hidupnya sangat Islami. Tapi, itu dihasilkan bukan dari pengaruh lingkungan sosialnya yang terdekat. Namun dihasilkan atau didapatkannya dari kelompok atau komunitas tempak mereka mancari identitas.
Semua itu terjadi karena begitu besarnya pengaruh globalisasi yang masuk ke seluruh sendi kehidupan. Pengaruh yang dominan diserap anak muda saat ini, justru yang bersifat negatif. Untuk menangkal hal demikian, menarik kiranya untuk mencontoh yang dilakukan oleh Lilik terhadap anaknya
”Saat pulang sekolah, bagi anak saya perlu betul bercerita segala hal dari tingkah laku teman-temannya di sekolah, yang menjadi keluh kesah dia. Dan, untuk hal demikian saya selalu menyediakan waktu untuk anak,” katanya.
Menurutnya, dalam zaman seperti ini, orangtua dan anak harus bisa menjalin komunikasi yang baik. ”Sekarang banyak anak dan orangtua yang kehilangan komunikasi. Tidak pernah bicara dari hati ke hati, yang membuat anak lebih percaya bercerita ke orang lain,” bebernya.
JPNN
No comments:
Post a Comment